beritaup2date.com

Makna dan Keutamaan Surat An-Nasr dalam Kehidupan Umat Islam

Ilustrasi. Makna dan Keutamaan Surat An-Nasr dalam Kehidupan Umat Islam (foto. Istimewa)

BERITAUP2DATE.COM, Surat An-Nasr merupakan surat ke-110 dalam Al-Qur'an, terdiri dari 3 ayat, dan termasuk dalam kategori surah Madaniyah, yang diturunkan setelah hijrah. Surat ini menggambarkan kemenangan besar yang diperoleh umat Islam, khususnya terkait dengan penaklukan Kota Mekah

Surat ini mengajarkan pentingnya bersyukur atas kemenangan dan keberhasilan yang diberikan Allah, serta mengingatkan umat Islam untuk selalu rendah hati, memohon ampunan, dan terus memperbaiki diri. 

Selain itu, surah ini juga memberikan gambaran tentang kedatangan pertolongan Allah yang nyata, yang akan mendatangkan perubahan besar bagi umat Islam.

Baca juga:
Yuk, Intip Rahasia Keunggulan Motor Listrik Polytron Fox-500

Surat An-Nasr dan Artinya: 

إِذا جاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْواجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاِسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوّابًا (٣)

Artinya: 
1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2) dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, 3) bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.

Baca juga:
Bupati Kutim Hadiri Retret Kepala Daerah di Akmil Magelang, Berikut Jadwal dan Materinya

Dilansir dari laman nu, Imam Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa Surat An-Nasr dinamakan demikian karena terdapat frasa "nashrullah" di dalamnya. Selain itu, surat ini juga dikenal sebagai Surat At-Taudi’ karena mengisyaratkan perpisahan Nabi Muhammad, yang berarti beliau akan segera berpisah dan kembali ke sisi Allah (Tahrir wat Tanwir, [Tunisia; Darut Tunisia Lin Nasyri, 1984 M], Jilid XXX, hlm. 587).

Keutamaan Surat An-Nasr 
Imam Ibnu Katsir menjelaskan hadits dari sahabat Anas bin Malik mengenai keutamaan membaca Surat An-Nasr, yang merupakan seperempat dari Al-Qur'an, yaitu:

  عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ: هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ؟ - قَالَ: أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ- قَالَ بَلَى- قَالَ- ثُلُثُ الْقُرْآنِ- قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ؟ - قَالَ بَلَى. قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ- قَالَ- أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ؟ - قَالَ بَلَى قَالَ- رُبُعُ الْقُرْآنِ- قَالَ- أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ- قَالَ بَلَى، قَالَ- رُبُعُ الْقُرْآنِ، تَزَوَّجْ تَزَوَّجْ 

Baca juga:
NOAH Rilis single “Suara Dalam Kepala” Suguhkan Pop dan Hip Hop Bareng RAMENGVRL

Artinya: Diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW berkata kepada seorang laki-laki dari sahabatnya: “apakah engkau akan menikah wahai fulan?”, dia menjawab: “tidak, demi Allah wahai Rasulullah saya tidak memiliki apa-apa untuk menikah” Rasulullah berkata: “apakah engkau tidak hafal surat qullhu allahu ahad?” dia menjawab: “iya, hafal” Rasulullah berkata: “surat itu ialah seper-tiganya Al-Qur’an, Rasulullah berkata lagi: “apakah engkau tidak hafal surat idza jaa an-nasyrullahi wal fathi? dia menjawab: “iya, hafal” Rasulullah berkata: “surat itu ialah seper-empatnya Al-Qur’an”, Rasulullah berkata lagi: “apakah engkau tidak hafal surat qul ya ayyuhal kafirun?”, dia menjawab: “iya, hafal” Rasulullah berkata: “surat itu ialah seper-empatnya Al-Qur’an”, Rasulullah berkata lagi: “apakah engkau tidak hafal surat idza zulzilatil ardhu zilzalaha?”, dia menjawab: “iya, hafal” Rasulullah berkata: “surat itu ialah seper-empatnya Al-Qur’an”, maka menikahlah menikahlah!” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, [Bairut;Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1419 M], Jilid VIII, hlm. 440)

Sababun Nuzul Surat An-Nasr 
Imam Ibnu Katsir juga memaparkan riwayat tentang sebab Surat An-Nasr diturunkan, yaitu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas:  

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ، فَكَأَنَّ بَعْضَهُمْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ فَقَالَ: لِمَ يُدْخِلْ هَذَا مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ؟ فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ، فَدَعَاهُمْ ذَاتَ يوم فأدخلني معهم فما رأيت أَنَّهُ دَعَانِي فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ إِلَّا لِيُرِيَهُمْ، فَقَالَ: مَا تَقُولُونَ فِي قَوْلِ اللَّهِ: إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَمَرَنَا أَنْ نَحْمَدَ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ إِذَا نَصَرَنَا وَفَتَحَ عَلَيْنَا، وَسَكَتَ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا، فَقَالَ لِي: أَكَذَلِكَ تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ؟ فَقُلْتُ: لَا، فَقَالَ: مَا تَقُولُ؟ فَقُلْتُ: هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ أَعْلَمَهُ لَهُ، قَالَ: إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ فَذَلِكَ عَلَامَةُ أَجَلِكَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّابًا فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: لَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَقُولُ

Artinya: Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Umar pernah memasukkanku di antara para sesepuh Badar”. Seolah-olah sebagian dari mereka merasa dalam hati mereka dan berkata: “Mengapa Umar memasukkan orang ini bersama kami, padahal kami memiliki anak-anak seperti dia?” Maka Umar berkata: “Dia termasuk dari orang alimnya kalian” 

Suatu hari, Umar memanggil mereka dan memasukkanku bersama mereka. aku tidak melihat Umar memanggilku di antara mereka hari itu kecuali untuk menunjukkan kepada mereka. Dia berkata: “Apa tanggapan kalian tentang firman Allah: "idza jaa nashrullahi wal fath?" Maka sebagian dari mereka berkata: “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun Ketika Allah telah memberikan kemenangan kepada kami”, kemudian sebagian dari mereka diam, tidak mengatakan apa-apa. 

Kemudian Umar berkata kepadaku : “Apakah seperti itu, wahai Ibnu Abbas?” aku menjawab: “Tidak.” Umar bertanya: “Apa pendapatmu?” aku menjawab: “Itu adalah tanda ajal Rasulullah yang Allah beritahukan kepadanya. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, maka itu adalah tanda ajalmu, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.”  
Umar bin Khattab berkata: “Saya tidak mengetahui  itu kecuali apa yang kamu katakan.” (Ibnu Katsir, VIII/481).

Waktu Turunnya Surat An-Nasr 
Syekh Wahbah Zuhaili memaparkan, terdapat dua pendapat mengenai waktu turunnya Surat An-Nasr, yaitu: 

  1. 1Fathu Makkah (kemenangan Kota Makah) terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 H. sementara surat ini diturunkan pada tahun 10 H.  diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW masih hidup selama 70 hari setelah surat ini diturunkan, kemudian nabi wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun 10 H. oleh karena surat ini disebut sebagai Surat at-Taudi’ (Surat Perpisahan) 
  2. Surat an-Nasr diturunkan sebelum terjadinya Fathu Makkah. Surat ini merupakan janji Allah SWT untuk menolong dan memberikan kemenangan  kepada penduduk Makah (Az-Zuhaili,XXX/447).

Tafsir Surat An-Nasr 
Ayat Pertama 
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata "Idza" pada permulaan surat ini bermakna "qad," yang berarti "sungguh telah datang pertolongan Allah," mengingat surat ini diturunkan setelah Fathu Makkah. Ada kemungkinan juga bahwa maknanya merujuk pada "idza yajiuka," yang menggunakan fi’il mudhori’. Mengenai bentuk pertolongan, terdapat beberapa pendapat.  

Pertama, menurut Imam At-Thabari, pertolongan yang diberikan adalah kepada Nabi Muhammad terhadap orang-orang Quraisy. Kedua, ada pendapat bahwa pertolongan tersebut ditujukan kepada Nabi dalam menghadapi orang-orang kafir yang memeranginya, hingga akhirnya kemenangan diperoleh. 

Selanjutnya, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa makna "al-fathu" juga memiliki perbedaan pendapat. Beberapa di antaranya adalah: pertama, Fathu Makkah, yaitu penaklukan Kota Makkah, menurut pendapat Hasan, Mujahid, dan lainnya.    

Kedua, penaklukan kota-kota dan negeri-negeri, menurut Ibnu Abbas dan Sa’id Bin Jubair. Ketiga, penaklukan seluruh negeri. Keempat, ditemukannya ilmu-ilmu baru. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ Lil Ahkamil Qur’an, [Mesir, Darul Kutub Al-Misyriyah, 1384 H], Jilid XX, Hlm. 230)

Ayat Kedua 
Imam Al-Baghawi menjelaskan, mereka  dari berbagai kaum dan suku datang secara berbondong bondong dan beringan masuk agama islam dengan tanpa melakukan peperangan. Al-Hasan berkata, lanjut Imam Al-Baghawi, Ketika Allah menaklukkan kota Mekah untuk Rasul-Nya, orang-orang Arab berbincang satu sama lain: 

"Jika Muhammad telah mengalahkan penduduk Tanah Suci (makkah) (padahal sebelumnya Allah telah melindungi mereka dari pasukan bergajah),  maka kalian tidak akan mampu menandinginya."  

Maka mereka mulai masuk ke dalam agama Allah secara berkelompok, sedangkan sebelumnya mereka masuk satu per satu atau dua orang dua orang. Ikrimah dan Muqatil berpendapat: Yang dimaksud dengan "an-nas" dalam ayat ini ialah penduduk Yaman (Tafsir Al-Baghawi, [Daru Tayyibah lin Nasyri wat Tauzi’, 1418 H], Jilid VIII, hlm. 576).

Ayat Ketiga 
Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa setelah perjuangan yang panjang dan penaklukan Kota Makkah, di mana Agama Islam berkembang pesat, Nabi diperintahkan untuk bersyukur atas segala anugerah yang diberikan. 

Selain itu, beliau juga diminta untuk meminta ampunan dengan tawadhu’ kepada Allah SWT, sebagai pelajaran bagi umatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT senantiasa menerima tobat hamba-Nya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah (dalam lafaz hadis dari Imam Bukhari) bahwa beliau berkata:  

ما صلّى رسول الله ﷺ صلاة بعد أن نزلت عليه سورة ﴿إِذا جاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ﴾ إلا يقول: سبحانك ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي

Artinya: “Rasulullah tidak pernah melaksanakan salat setelah turunnya surah Idza ja'a nashrullah wal fath (QS. An-Nasr), kecuali beliau mengucapkan: Subhanaka Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfir li” (Az-Zuhaili, XXX/450).


×
×